Jumat, 21 November 2014

Kebutuhan Manusia terhadap Rasul

0 komentar
حَاجَةُ اْلإِنْسَانِ إِلَى الرَّسُوْلِ
Kebutuhan Manusia terhadap Rasul

Manusia Pertama
•       Ketika Allah SWT menurunkan Adam AS beserta istrinya ke bumi, maka kemudian memiliki anak
•       Setiap kali mengandung, Hawa melahirkan satu pasang anak kembar: laki-laki dan perempuan
•       Syari’at yang diterapkan: perkawinan silang dan tidak boleh menikah dengan kembarannya
Fitrah Manusia (اَلْفِطْرَةُ)
•       Allah SWT telah menanamkan fitrah (Islam) kedalam setiap janin yang sudah ditiupkan ruh
•       Saat itulah Allah mengambil perjanjian kepada manusia dengan sebuah pertanyaan, “Apakah Aku ini Rabb kalian?” Maka semuanya membenarkannya dan menjadi saksi (7:172)
•       Karena itulah, peradaban apapun yang berlaku pada manusia, purba ataupun modern, ada yang tidak dapat dihilangkan dari diri manusia
Mengakui Eksistensi Pencipta (وُجُوْدُ الْخَالِق)
•       Fitrah yang ditanam oleh Allah tidak akan pernah hilang, yang terjadi adalah tertutupi dengan kotoran-kotoran lain
•       Oleh karena itu, manusia pasti mengakui bahwa di balik alam semesta yang megah dan teratur ini, ada Penciptanya
Sang Pencipta
•       Ada yang menganggap bahwa Pencipta itu terbatas pada satu kemampuan: langit sendiri penciptanya, laut, gunung, awan, dll ada pencipta dan pemeliharanya sendiri-sendiri
–      Bhrahma: dewa pencipta alam
–      Shiva: dewi perusak alam
•       Menyembah perusak lebih disukai dari pada pencipta, sehingga patung dewi Shiva yang lebih banyak disembah
Naluri Menyembah
•       Fitrah itulah yang mendorong manusia memiliki naluri untuk menghormati, mengagumi, mensucikan, mengkultuskan Dzat yang dianggap Tertinggi
•       Selanjutnya di hadapan Dzat atau berbagai Dzat itu mereka menundukkan diri, menghinakan diri, ruku’, sujud
Hidup yang Tertata (اَلْحَيَاةُ اَلْمُنَظَّمَةُ)
•       Fitrah juga mendorong manusia hidup secara teratur
–      Mereka hidup berkelompok-kelompok (49:13)
–      Mereka menunjuk satu orang sebagai pemimpin mereka
–      Mereka mentaati aturan yang disepakati bersama atau yang ditentukan oleh sang pemimpin
Kekacauan
•       Ketiadaan petunjuk menyebabkan terjadinya berbagai macam kekacauan
–      Kacau dalam mempersepsikan Sang Pencipta
–      Kacau dalam peribadatan
–      Kacau dalam fanatisme dan penindasan terhadap rakyat oleh penguasa
Petunjuk Rasul (هِدَايَةُ الرَّسُوْلِ)
•       kekacauan itu, maka Allah mengirim para rasul untuk memberikan petunjuk kepada umat manusia
•       42:52-53 وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus)
•       Petunjuk itu berupa WAHYU yang Allah turunkan kepada para nabi dan rasul, di antaranya berupa shuhuf (87:18-19) dan kitab-kitab (2:2)
Beribadah dengan Benar
•       Berkat petunjuk Rasul, manusia mengenal Allah SWT dengan benar dan mengikuti pedoman hidup yang sejati
•       Dengan begitu, manusia akhirnya dapat beribadah kepada Allah SWT dengan ibadah yang benar
•       21:25 à sembahlah AKU saja
•       98:5 beribadah dengan memurnikan ketaatan


Read more ►

Hasil-hasil Mengikuti Rasul SAW

0 komentar
نَتَائِجُ اِتِّبَاعُ الرَّسُوْلِ
Hasil-hasil Mengikuti Rasul SAW

Hasil Ittiba’ Rasul SAW

•       MUNAFIKIN: mulutnya bicara madu, hatinya racun
•       Bukti: selalu bikin makar dan ambil kesempatan menikam, kalau ada, dan menyalahkan muslimin bila dalam perang dapat bencana
•       Contoh: Perang Tabuk yang diulas dalam surat At-Taubah
–      Jika benar imannya à tidak minta idzin dari jihad (tidak ikut)
–      Tuntutan IMAN à ITTIBA’ (ikut)

Mengikuti Rasul

•       Percaya tapi tidak mau ikut à masih ragu-ragu
•       Kalau kadang ikut, kadang bolos?
•       Berarti masih ada keraguan di hatinya, belum percaya penuh
•       3:31 cinta Allah dibuktikan dengan ikut Rasulullah
•       2:102 orang yang sesat ikut setan

Dua Kebaikan

•       Ketika Allah memerintahkan kita untuk ITTIBA’ kepada Rasulullah à Allah akan memberikan dua kebaikan di dunia dan akhirat

KEBAIKAN DI DUNIA

•       Cinta dari Allah (مَحَبَّةُ اللهِ)
•       Rahmat dari Allah (رَحْمَةُ اللهِ)
•       Hidayah dari Allah (هِدَايَةُ اللهِ)
•       Kemuliaan (اَلْعِزَّةُ)
•       Kemenangan (اَلْغَلَبَةُ)

Cinta dari Allah (مَحَبَّةُ اللهِ)

•       3:31 kalau cinta kepada Allah à ITTIBA’ à cinta dari Allah
–      Ini namanya cinta yang pasti berbalas, bukan bertepuk sebelah tangan
Sababun-nuzul: pada masa Rasul beberapa kaum berkata kepada beliau, “Demi Allah, ya Muhammad, sungguh kami benar-benar mencintai Rabb kami.” Maka turunlah ayat ini à memerintahkan agar membuktikannya dengan ittiba

Jika Allah Mencintai HambaNya

Dan jika Allah sudah mencintai seorang hamba (فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ), maka:
  1. كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ jadilah Aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar
  2. وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat
  3. وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا sebagai tangannya yang ia gunakan untuk berbuat
  4. وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan
  5. وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ  jika ia meminta (sesuatu) kepadaKu pasti Aku akan memberinya
  6. وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ jika ia memohon perlindungan dariKu pasti Aku akan melindunginya (HR Bukhari)

KEBAIKAN DI AKHIRAT

•       Di samping kebaikan di dunia, Allah akan memberikan kebaikan di akhirat
  1. Mendapatkan Syafaat (اَلشَّفَاعَةُ)
  2. Keceriaan Wajah (نُضَارَةُ الْوَجِهِ)
  3. Mendampingi Rasulullah (مُجَاوَرَةُ الرَّسُوْلِ)
  4. Bersahabat dengan Orang-orang Shaleh (مُصَاحَبَةُ)
  5. Kemenangan (اَلْفَلاَحُ)

Keceriaan Wajah (نُضَارَةُ الْوَجِهِ)

•       Pada hari kiamat umat Rasul SAW wajah dan seluruh anggota wudhunya bercahaya à perumpamaan: kuda belang putih wajah dan kakinya di antara kuda yang semua hitam

Keberuntungan (اَلْفَلاَحُ)

•       Siapa yang ittiba’ dengan Rasulullah SAW maka akan mendapatkan keberuntungan di akhirat
•       23:1-11 ketetapan dari Allah bahwa orang-orang mu’min pasti beruntung, yakni mereka mengikuti semua ajaran Islam
–      Mereka itulah yang mewarisi: SORGA FIRDAUS
–      Mereka kekal di dalamnya

Read more ►

Minggu, 16 November 2014

Tugas Rasul

0 komentar

MENGEMBAN MISI DAKWAH

Ini merupakan tugas umum beliau SAW sebagai Rasul, perintah untuk menyampaikanrisalah Allah SWT menjamin perlindungan saat mengemban misi ini para rasul yangsebelumnya juga menyampaikan risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah

Ada 4 misi dakwah yang diemban oleh Rasul SAW

1.Mengenalkan Pencipta:
Ciptaan pertama yang dikenalkan adalah MANUSIA itu sendiri, yang Allah ciptakan darisegumpal darah
2.Mengajarkan tatacara ibadah:
3.Menjelaskan pedoman hidup
3.Tarbiyah

Misi Rasulullah SAW yang lainnya adalah mentarbiyah umat (62:2) à misi yang didoakanoleh Ibrahim AS (2:129)
Tarbiyah yang dilakukan Rasul SAW

> Membacakan (tilawah) ayat-ayat Allah
> Membersihkan jiwa (tazkiyatun-nafs)
> Mengajarkan (ta’lim)

Al-Qur’an dan Al-Hikmah Kemudian dilanjutkan dengan MENGARAHKAN (تَوْجِيْهٌ) mereka menuju pribadi yang agung (rabbani 3:79) dan juga memberi nasihat (نَصِيْحَةٌ) kepada mereka (6:151-153)

1. menyampaikan sesuatu untuk mencapai kesempurnaan, dimana bentuk penyampaiannya satu dengan yang     lain berbeda sesuai dengan tujuan pembentukannya.
2. menentukan tujuan melalui persiapan sesuai dengan batas kemampuan untuk mencapai kesempurnaan.
3. sesuatu yang dilakukan secara bertahap dan sedikit demi sedikit oleh seorang pendidik.
4. sesuatu yang dilakukan secara berkesinambungan, maksudnya tahapan-tahapannya sejalan dengan        kehidupan, tidak berhenti pada batas tertentu, terhitung dari buaian sampai liang lahad.
5. dijadikan sebagai tujuan terpenting dalam kehidupan, baik secara individu maupun keseluruhan, yaitu  untuk kemashlahatan ummat dengan asas mencapai keridhaan Allah SWT seperti tersirat dalam firman Allah:
"Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu ia berkata kepada manusia, 'hendaklah kamu menjadi penyembahku, bukan penyembah Allah'. Akan tetapi(dia berkata),'hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya."(Al Imran:79)
Read more ►

SIFAT-SIFAT RASUL

0 komentar
SIFAT-SIFAT RASUL
(ِفَاتُ الرَّسُوْل)

1. SHIDIQ (JUJUR)

Setiap rasul pasti jujur dalam ucapan dan perbuatannya. Apa apa yang telah disampaikan kepada manusia baik berupa wahyu atau kabar harus sesuai dengan apa yang telah diterima dari Allah tidak boleh dilebihkan atau dikurangkan. Dalam arti lain apa yang disampaikan kepada manusia pasti benar adanya, karena memang bersumber dari Allah. Makanya setiap rasul pasti jujur dalam pengakuan atas kerasulannya. Dan kita sebagai manusia harus meyakinkanya dan beri’tikad bahwa semua yang datang dari Rasul baik perkataan atau perbuatan adalah benar dan hak. Karena apa yang diucapkan atau diperbuat oleh para rasul bukan menurut kemauannya sendiri. Ucapan dan perbuatannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan atau risalah yang diterima dari Allah.
Sebagai bukti atas kebenaran para rasul, mereka telah dibekali dengan mukjizat mukjizat yang harus diyakini oleh setiap muslim kebenaranya. Dan tidak mungkin harus diyakini dan diteladani jika mereka (para rasul) itu tidak jujur. Tentu setelah itu apa yang telah diperintahkan Allah melalui perantaraan para rasul, kita sebagai muslim harus mengikuti dengan ta’at dan apa yang dilarang Allah kita tinggalkan.
وَمَآ آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُواْ
”Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah,” (al-Hasyr, 7)

2. AMANAH (DIPERCAYA)

Amanah berarti bisa dipercaya baik dhahir atau bathin. Sedangkan yang dimaksud di sini bahwa setiap rasul adalah dapat dipercaya dalam setiap ucapan dan perbuatannya. Para rasul akan terjaga secara dhahir atau bathin dari melakukan perbuatan yang dilarang dalam agama, begitu pula hal yang melanggar etika.
إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ
“Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,” (asy-syuara’ 143)
Maka hal yang muhal atau mustahil jika rasul itu terjerumus ke dalam perzinahan, pencurian, meminum minutan keras, berdusta, menipu dan lain sebagainya. Rasul tidak mungkin memiliki sifat hasud, riya’, sombong, dusta dan sebagainya. Jika para rasul telah melanggar etika berarti mereka telah bekhianat dan Allah tidak menyukai manusia yang berkhianat.

إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الخَائِنِينَ
Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.”(al-Anfal, 58)

3. TABLIGH (MENYAMPAIKAN)

Sudah menjadi kewajiban para rasul untuk menyampaikan kepada manusia apa yang diterima dari Allah berupa wahyu yang menyangkut didalamnya hukum hukum agama. Jika Allah memerintahkan para rasul untuk menyampaikan wahyu kepada manusia, maka wajib bagi manusia untuk menerima apa yang telah disampaikan dengan keyakinan yang kuat sebagai bukti atau saksi akan kebenaran wahyu itu.
الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالاَتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلاَ يَخْشَوْنَ أَحَداً إِلاَّ اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيباً
Allah berfirman, “(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.” (al-Ahzab, 39).
Hal ini bisa dikiyaskan bahwa jika Allah memberikan wahyu kepada para rasul untuk tidak disampaikan atau dirahasiakan kepada manusia, maka tidak wajib bagi manusia untuk mempelajarinya. Sedangkan menyampaikan adalah hal yang wajib dan menyembunyikan adalah hal yang terlaknat dan tercela.

4. FATHONAH (CERDAS)
Dalam menyampaikan risalah Allah, tentu dibutuhkan kemampuan, diplomasi, dan strategi khusus agar wahyu yang tersimpan didalamnya hukum hukum Allah dan risalah yang disampaikan bisa diterima dengan baik oleh manusia. Karena itu, seorang rasul wajib memiliki sifat cerdas. Kecerdasan ini sangat berfungsi terutama dalam menghadapi orang-orang yang membangkang dan menolak ajaran Islam.
Maka diharuskan bagi kita untuk meyakinkan bahwa para rasul itu adalah manusia yang paling sempurna dalam penampilan, akal, kekuatan berfikir, kecerdasan dan pembawaan wahyu yang diutus pada zamannya. Kalau saja para rasul itu tidak sesuai dengas sifat sifatnya maka mustahil manusia akan menerima dan mengakuinya. Sifat sifat itu merupakan satu hujjah bagi mereka agar apa yang disampaikan bisa diterima dengan baik.
وَتِلْكَ حُجَّتُنَآ آتَيْنَاهَآ إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ
Allah berfirman: “Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya.” (al-An’am, 83)

SIFAT-SIFAT MUSTAHIL BAGI RASUL

1. KIDZIB

Kidzib artinya adalah dusta. Semua Rasul adalah manusia-manusia yang dipilih oleh Allah SWT sebagai utusan-Nya. Mereka selalu memperoleh bimbingan dari Allah SWT sehngga terhindar dari sifat-sifat tercela. Setiap rasul benar ucapannya dan benar pula perbuatannya. Sifat dusta hanya dimiliki oleh manusia yang ingin mementingkan dirinya sendiri, sedangkan rasul mementingkan umatnya.

Allah SWT berfirman :

مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى

“Hatinya tidak mendustakan apa yang dilihatnya.” (An-Najm : 11)

Di ayat yang lain Allah SWT berfirman :

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيْلِ . لاَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِيْنِ . ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِيْنَ

“Dan sekiranya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atau (nama) Kami, pasti Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian Kami potong pembuluh jantungnya.” (Al-Haqqah : 44-46)

2. KHIYAANAH

Khiyaanah artinya adalah berkhianat atau curang. Tidak mungkin seorang rasul berkhianat atau ingkar janji terhadap tugas-tugas yang diberikan Allah SWT kepadanya. Orang yang khianat terhadap kepercayaan yang telah diberikan kepadanya adalah termasuk orang yang munafik, rasul tidak mungkin menjadi seorang yang munafik.

Sepanjang sejarah belum pernah ada seorang rasul yang khianat kepada umatnya. Demikian pula terdahap amanat yang telah diterima dari Allah SWT. Ketika Rasulullah SAW menunaikan Haji Wada’, beliau berpidato di Padang Arafah seraya berkata :

أَيُّهَا النَّاسُ ! فَلاَ تَرْجِعُنَّ بَعْدِيْ كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ أَلاَ لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ . فَلَعَلَّ بَعْضَ مَنْ يُبَلِّغُهُ أَنْ يَكُوْنَ أَوْعَى لَهُ مِنْ بَعْضِ مَنْ سَمِعَهُ . أَلاَ بَلَّغْتُ ؟ اَللَّهُمَّ اشْهَدْ ! أَيُّهَا النَّاسُ ! إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ , وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ , كُلُّكُمْ مِنْ آدَمِ وَآدَمَ مِنْ تُرَابٍ , إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ , لَيْسَ لِعَرَبِيٍّ فَضْلٌ عَلىَ عَجَمِيٍٍّ إِلاَّ بِالتَّقْوَى . أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ ؟ اَللَّهُمَّ اشْهَدْ ! فَلْيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ مِنْكُمُ الْغَائِبَ

“Hai manusia, janganlah engkau kembali menjadi kafir sesudahku sehingga yang satu golongan memerangi golongan yang lain. Ingatlah ! Yang hadir hendaklah menyampaikan kepada yang tidak hadir. Barangkali orang yang menerima pesan lebih pandai memelihara (pesan) daripada orang yang mendengarkannya secara langsung. Bukankah telah kusampaikan? Ya Allah, saksikanlah !
Hai manusia, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu dan bahwasanya orang tuamu satu. Kamu semua dari Adam, sedangkan Adam itu dari tanah. Bahwasanya yang semulia-mulia orang di sisi Allah ialah yang paling taqwa di antara kamu. Tidak ada kelebihan orang Arab atas orang bukan Arab melainkan dengan taqwa kepada-Nya. Bukankah telah kusampaikan? Ya Allah, saksikanlah ! Yang hadir hendaknya menyampaikan (pesan ini) kepada yang tidak hadir.

3. KITMAAN

Kitmaan artinya adalah menyembunyikan. Semua ajaran yang disampaikan oleh para rasul kepada umatnya tidak ada yang pernah disembunyikan. Jangankan yang mudah dikerjakan dan difahami dengan akal fikiran, yang sulit pun akan disampaikan olehnya seperti peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Tugas rasul di dunia ini adalah menyampaikan wahyu Allah SWT kepada umat manusia sebagai pedoman hidup. Semua rasul bersifat tabligh atau menyampaikan wahyu dan mustahil bersifat kimaan atau menyembunyikan wahyu yang diamanatkan kepada dirinya. Dengan penuh semangat dan rasa tanggung jawab, para rasul melaksanakan tugas-tugasnya walaupun harus menanggung segala resiko yang akan terjadi. Contohnya, Nabi Ibrahim AS mendapat resiko dari Raja Namrud dan rakyatnya sehingga beliau dibakar. Nabi Musa AS bersama kaumnya (Bani Israil) bersusah payah menyelamatkan diri dari kejaran tentara Raja Fir’aun sehingga nyaris tertangkap olehnya. Nabi Muhammad SAW berlumuran darah saat dilempari batu oleh penduduk Thaif dan nyaris terbunuh saat akan hijrah ke Madinah. Kesemuanya itu merupakan resiko yang harus dihadapi para rasul dalam melaksanakan tugas sucinya.

Allah SWT berfirman :

إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ مَا يُوْحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الْأَعْمَى وَالْبَصِيْرُ أَفَلاَ تَتَفَكَّرُوْنَ

“Aku tidak mengikuti kecuali yang diwahyukan kepadaku, katakanlah apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Maka apakah kamu tidak memikirkannya.” (Al-An’am : 50)

4. BALAADAH

Balaadah artinya adalah bodoh. Seorang rasul mempunyai tugas yang berat. Rasul tidak mungkin seorang yang bodoh. Jika rasul bodoh, maka ia tidak akan dapat mengemban amanat dari Allah SWT. Jadi, mustahil rasul memiliki sifat bodoh.

Allah SWT berfirman :

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَ أَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِيْنَ

“Jadilah engkau pemaaf dan serulah orang yang mengerjakan ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Al-A’rof : 199)

Rasul yang diutus untuk manusia adalah manusia juga, bukan malaikat Oleh karena itu,Rasulullah SAW juga memperlakukan para sahabat secara manusiawi, bahkankepada binatang dan tumbuhan pun memperlakukannya dengan sangatbaik Muhammad saw. sangat mencintai sahabat-sahabatnya, menunjukkan kasihsayang kepada mereka, memanggil mereka dengan panggilan yang sangat merekasukai, sigap memberi pelayanan kepada mereka, bahkan berusaha menjadikansahabatnya bisa rehat. Diriwayatkan dari Anas bin Malik berkata, “Rasulullah saw.memberi minum kepada para sahabatnya. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullahsaw. hendaknya Engkau meminum terlebih dahulu? Rasulullah saw. Menjawab: “Pemberi minum suatu kaum, ia paling akhir meminum.”
Suatu ketika ada seseorang masuk menemui Muhammad saw., tiba-tiba ia merasamerinding di hadapan keagungan Muhammad saw. Maka beliau berkata, “Tenangkandirimu, saya bukanlah seperti raja. Saya adalah putra dari seorang perempuan Quraisy yang jugamemakan Qadid.”
Adalah Aisyah ketika minum air gelas, maka Muhammad saw. meminum gelas tadi persis dibagian yang sama Aisyah minum. Beliau saw memberlakukan mereka denganperlakuan sisi manusiawinya, yang difitrahkan Allah, tidak memaksakan diri danmembuat-buat.
“Suatu kali Aisyah menang dalam lomba lari, lain kali Muhammad saw. mengalahkan Aisyah. Dan Muhammad saw. mengatakan: “Kemenangan ini untuk membalas kekalahan sebelumnya.
Muhammad saw. suatu ketika telah shalat. Hasan bin Ali ra, masuk mendekatinya. Ketikabeliau sujud, Hasan naik di pundak Rasulullah saw., maka Rasulullah saw.melamakan sujudnya, sehingga Hasan turun. Ketika Rasulullah saw. selesai shalat,sebagian sahabat bertanya kepadanya, “Apa yang menjadikan engkau lama dalamsujud? Beliau menjawab, “Sesungguhnya putraku telah naik di pundakku, maka aku tidakingin mengusiknya dengan segera berdiri dari sujud.”

Orang Arab Badui mendatangi Muhammad saw. seraya berkomentar, “Kalian menciumanak-anak kalian? Sedangkan kami sama sekali tidak melakukan demikian!! Makabeliau saw. menjawab, “Atau apakah saya berkehendak bagimu agar Allah mencabut sikapkasih sayang dari hatimu?” Tentunya tidak! Hampir-hampir Muhammad saw.menyengsarakan dirinya karena banyak memikirkan mereka sepanjang waktu(18:6) Diriwayatkan dari Aisyah ra, berkata: “Ketika Rasulullah saw didustakan olehkaumnya, Jibril AS mendatanginya seraya berkata, “Sungguh, Allah swt mendengar ucapankaummu tentang engkau, mereka menginginkan kecelakaan bagimu. Dan Malaikat Gunungtelah diperintahkan kepadamu, agar engkau memerintahkan sesuka kehendakmu. Malaikatgunung menawarkan kepada beliau saw. “Perintahkan aku apa yang engkau mau, agar akumenimpakan dua gunung besar itu kepada mereka.” Maka beliau menjawab, “Bahkan sayaberharap agar Allah swt melahirkan dari keturunan mereka, orang yang menyembah Allah dantidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun.” •Diriwayatkan dari Sahal bin AlHandhalah ra. berkata, “Rasulullah saw. suatu hari melewati seekor onta yangmenahan beban berat di punggungnya. Maka Rasulullah saw bersabda, “Takutlahkepada Allah, dalam memperlakukan hewan ternak. Naikilah dengan cara baik dan berimakanlah dengan cara yang baik pula.” •Perasaanmu pernah terusik gara-gara melihatanak burung yang diceraikan dari ibunya. Abdullah bin Umar meriwayatkan: “Suatu harikami bersama dengan Nabi Muhammad saw. dalam safar. Beliau saw. memenuhi hajatnya.Ketika itu beliau melihat ada dua burung kecil yang diambil dari ibunya. Maka Nabi saw.mengatakan, “Siapa yang menjadikan anak burung ini ketakutan? Kembalikan anak burung inikepada ibunya.”
Biasanya disebut dengan MA’SHUMBukan berarti tidak pernah salah, tetapi kalau salahlangsung diluruskan (ditegur) oleh Allah SWT 5:67 وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ à turun setelahdua tahun di Madinah. Pada awal berada di Madinah teror musyrikin Makkahmemang dirasakan sekali oleh beliau, sehingga setiap malam ada yang menjagabeliau. Saat ayat ini turun, maka sahabat yang menjaga malam itu disuruh pulangkarena sudah ada jaminan keselamatan dari Allah 80:1 teguran tentang “cara dakwahRasul” yang lebih mementingkan ketokohan, bukan pada orang yang siap menerimanperubahan (قَابِلُ التَّغْيِيْرِ) 66:1 à lihat catatan kaki Qur’an terjemah Depag RI Apa yangdisampaikan selalu benar, bukan dusta Tak pernah sekalipun beliau berdusta,bahkan ketika bergurau
Ketika di bukit Shafa beliau bertanya, “Apa pendapat kalian jika kukabarkan bahwa dilembah ini ada pasukan kuda yang mengepung kalian, apakah kalian percayakepadaku?”“Benar,” jawab mereka, “kami tidak pernha mempunyai pengalamanbersama engkau kecuali kejujuran.”Apa yang disampaikan selalu benar, bukandusta Tak pernah sekalipun beliau berdusta, bahkan ketika bergurau

Setiap Rasul mesti cerdas, karena tantangan kaum atau umatnya yang bermacam-macam 2:258 Ibrahim AS mampu mematahkan argumentasi Namrud dengan telaksampai dia tak mampu berbicara sepatah kata pun Peristiwa peletakkan hajar aswadketika beliau berumur 35 tahun menunjukkan kecerdasan beliau yang mampumenyatukan mereka Berdakwah di wilayah yang sangat menentangnya tentu mesticerdas sehingga dakwah tetap berlangsungBeberapa Contoh Kecerdasan Beliau Saatkondisi terjepit, maka Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk hijrah keHabasyah karena di sana ada raja nasrani yang baik Memimpin orang-orang hebatyang berkumpul dalam satu kota (Madinah) tentu memerlukan kecerdasan luar biasa,apalagi latar-belakang mereka berbeda-beda, ditambah lagi ada gangguan darimunafikin dan YahudiKecerdasan Nabi dalam Hijrah> Keluar dari rumah malam hariketika para pengintai tertidur>Keluar kota Mekkah siang hari ketika mereka juga tidurqailulah>Melalui jalan menuju Syam, bukan Madinah>Pembagian tugas yang sangatrapi
KOMITMEN (اَلاِلْتِزَامُ)
Berbagai gangguan dan godaan dalam perjuangan dakwah dapat ditanganidengan baik oleh Rasulullah
menggambarkan dahsyatnya rencana atau program orang-orang kafir untukmemalingkan Rasul dari dakwahnya sehingga hampir saja Rasul berpaling sedikitkalau tidak dikokohkan Allah SWT

Mengikuti dakwah Rasul memerlukan iltizam (komitmen) agar gerak dakwah dapat terusmajU Akan tetapi karena jalan dakwah itU perjalanan yan Panjang jalannya Sedikitorang yang mau mengembannya, banyak cobaannya doa minta tidak disimpangkansetelah mendapat petunjuk maka tidak sedikit yang berguguran di jalan dakwah
Akhlak yang agung itu adalah akhlak al-Qur’an
Semua perkataan dan perbuatan beliau SAW adalah apa yang ada dalam al-Qur’an SitiAisyah ra ketika ditanya akhlak beliau, menjawab, كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ (akhlaknya adalah Al-Qur’an) Ketika membina umat, maka muncullah GENERASI QUR’ANI YANG UNIK (جِيْلُ الْقُرْآنِ الْفَرِيْدِ) Wajar kalau kemudian beliau SAW ditetapkan oleh Allah SWT sebagai teladanyang baik
Teladan yang baik adalah memiliki idola yang seperti di bawah ini

Idolanya bukan artis, pemain bola, atau lainnya
Idolanya adalah Rasulullah SAW
Semboyannya adalah “Rasul sebagai teladan kami” (اَلرَّسُوْلُ قُدْوَتُنَا)
Mulailah dari yang kecil, misalnya makan dengan tangan kanan, atau apapun yang baik selaludimulai dengan yang kan
Sampai mengikuti jejak jihad beliau SAW
Read more ►

PENGERTIAN RASUL

0 komentar
MA'RIFATUL RASUL 
(Mengenal Rasul)

       Mengenal merupakan sebuah bahasa yang sangat penting dalam pembinaan keagamaan seorang muslim. Dalam kalimat syahadat kesaksiannya yang pertama yang dilakukan seorang adalah keyakinan bahwa Allah itu Esa dan yang kedua adalah keimanan terhadap kerasulan Muhammad SAW. Oleh karena itu pengenalan terhadap Rasulullah SAW sangat menentukan tingkat pemahaman, penghayatan dan pengamalan seseorang terhadap ikrar keislaman mereka, karena dari sinilah terbentuklah kepribadian muslim.

       Mengenal rasul menjadi sebuah keperluan yang asasi bagi kaum muslimin masa kini karena mereka tidak hidup bersama dengan nabi, mereka harus beriman kepada kerasulan Muhammad SAW dengan keimanan yang sebenar-benarnya. Inilah sebuah upaya untuk menghayati makna syahadatain.

       Ibnu Qoyyim menerangkan bahwa kebutuhan manusia yang utama adalah mengenal para rasul dan ajaran yang dibawanya, percaya akan berita dan yang disampaikannya serta taat pada yang diperintahkan, sebab tidak ada jalan menuju kebahagiaan dan keberhasilan di dunia dan akhirat kecuali dengan tuntunan para rosul. Tidak ada pula petunjuk untuk mengetahui yang baik dan buruk maupun keutamaan yang lain kecuali mengikuti rasul untuk mendapatkan ridha Allah.

      Tugas rasul di dunia ini adalah menyampaikan wahyu Allah SWT kepada umat manusia sebagai pedoman hidup. Semua rasul bersifat tabligh atau menyampaikan wahyu dan mustahil bersifat kimaan atau menyembunyikan wahyu yang diamanatkan kepada dirinya. Dengan penuh semangat dan rasa tanggung jawab, para rasul melaksanakan tugas-tugasnya walaupun harus menanggung segala resiko yang akan terjadi. Contohnya, Nabi Ibrahim AS mendapat resiko dari Raja Namrud dan rakyatnya sehingga beliau dibakar. Nabi Musa AS bersama kaumnya (Bani Israil) bersusah payah menyelamatkan diri dari kejaran tentara Raja Fir’aun sehingga nyaris tertangkap olehnya. Nabi Muhammad SAW berlumuran darah saat dilempari batu oleh penduduk Thaif dan nyaris terbunuh saat akan hijrah ke Madinah. Kesemuanya itu merupakan resiko yang harus dihadapi para rasul dalam melaksanakan tugas sucinya.


Allah SWT berfirman :

إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ مَا يُوْحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الْأَعْمَى وَالْبَصِيْرُ أَفَلاَ تَتَفَكَّرُوْنَ

“Aku tidak mengikuti kecuali yang diwahyukan kepadaku, katakanlah apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Maka apakah kamu tidak memikirkannya.” (Al-An’am : 50)
Penting nya mengikuti Nabi

1.Mahabbatullah (cinta dari Allah),
2.Rahmatullah (kasih sayang-Nya),
3.Hidayatullah (petunjuk dari-Nya),
4.Mushahabatul akhyar fil jannah (bersama orang-orang pilihan di surga),
5.Asy-syafa’ah (mendapatkan syafaat dari Rasulullah saw),
6.Nadharatul wajhi (muka yang bersinar dan berseri di surga),
7.Mujawaratu ar-rasul (menjadi tetangga Rasulullah saw di surga),
8.Izzatun-nafsi (meperoleh kemuliaan jiwa di dunia dan akhirat),
9.Al-falah (kemenangan & keberuntungan). :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدِدْتُ أَنِّي لَقِيتُ إِخْوَانِي قَالَ فَقَالَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَلَيْسَ نَحْنُ إِخْوَانَكَ قَالَ أَنْتُمْ أَصْحَابِي وَلَكِنْ إِخْوَانِي الَّذِينَ آمَنُوا بِي وَلَمْ يَرَوْنِي

: Dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah saw bersabda: Aku rindu ingin bertemu dengan (ikhwani) saudara-saudaraku


Kewajiban kita kepada allah Swt :

1. Mengimaninya

Banyak ayat yang menyebut iman kepada Allah dan Rasul secara bersamaan. Ini artinya bahwa Iman kepada Rasul tidak dapat dipisahkan dengan iman kepada Allah. Keislaman seseorang dianggap batal bila hanya iman kepada Allah akan tetapi tidak iman kepada Rasul, dan disebut inkaru sunnah.

2. Mencintainya

Iman seseorang dianggap sempurna bila ia telah mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih besar dibanding cintanya kepada orang lain bahkan dirinya sendiri.

3. Mengagungkannya

Jasa dan pengorbanannya untuk umat ini berikut sifat-sifat kesempurnaan yang Allah berikan kepadanya membuatnya layak untuk diagungkan. Namun pengagungan ini tidak boleh melampaui batas karena Islam melarang kultus.

4. Membelanya

Membelanya adalah kewajiban mukmin, caranya dengan ittiba’ kehidupannya, maka pasti Allah akan memberi penghargaan atasnya.

5. Mencintai mereka yang mencintainya

Mereka cinta karena Allah dan Rasul-Nya, mereka bertemu dan berpisah karena dorongan cinta tersebut. Mereka bagaikan tubuh yang satu, bila ada yang sakit, semua merasakan demam dan tidak bisa tidur.

6. Menghidupkan sunnahnya

Bukan hanya sunnah dalam ibadah khusus, bahkan termasuk aktifitas sehari-hari yang kecil dan sederhana. Bila aktifitas tersebut dimaksudkan untuk ittiba’ rasul, maka pasti bernilai ibadah.

7. Memperbanyak shalawat kepadanya

Satu shalawat nabi yang diucapkan seorang muslim akan dibalas dengan sepuluh kali doa Rasul untuknya.

8. Mengikuti manhaj-nya

Manhaj yang dimaksud tidak lain adalah sistem Islam yang mengatur segala aspek kehidupan manusia.

9. Mengikuti risalahnya

Dengan menjaga, membela, dan memperjuangkan dalam gerak dakwah dan jihad. :
Read more ►

AGAMA RESUME 7 (ILMU ALLAH)

0 komentar
ILMU ALLAH 

Ilmu allah sangatlah luas dibandingkan ilmu makluknya , manusia tidak sanggup untuk meneuliskannya , meskipun dengan tinta dari 7 lautan dan pena dari semua pepohonan yang ada takkan cukup .
allah adalah pencita segala nya

menciptakan yang telah ada dan tiada allah selau memperbarui dalam penciptaan nya salah satu buktiny adalah allah menciptakan alam ini dalam 6 hari (ahad - jumát dan beristrahat pada hari sabtu kalau allah berhenti menciptakan maka hancurlah alam semesta ini .
karena penciptaan nya maka allah adalah yang paling tau berkat rahmad allah dapat membagi ilmu nya kepada mahluknya , termasuk manusia terdapat dua jalur yaitu :

1. jalur khusus ( cepat ) atau sering di sebut jalur resmi karena jalur resmi maka hanya orang - orang tertentu yang khusus menerimanya salah satu nya dalah wahyu allah ,
wahyu memiliki 4 artian yang membuat pihak - pihak mendapat wahyu ini lantas di sebut wahyu Nabi atau Rasul apabila semua yang mendapatkan wahyu di sebut rasul maka nabi dan setan , leabh , langit , bumi , wanita kita harus dapat menbedakan nya contoh nya dalah pemberitahuan akan karunia dan petunjuk yang allah berikan kepada maryam saat melahirkan melalui malaikat dalam bentuk seseorang laki - laki bukan berati maryam adalah nabi .

2. jalur umum ( lambat ) atau jalur tidak resmi yaitu beruipa ilham tidak melalui perantara para Rasul atau nabi allah yang di berikam langsun kepada allah yang di smapaikan kepada manusia secara langsung yaitu kecerdasan berfikir , kecerdasan manusia berbeda - beda pada hakikatnya semua manusia cerdas hanya saja berbeda - beda kecerdasan nya termasuk semua mahluk yang ada di dunia ini

Ada sinergi yang sangat baik antara ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat qauliyah, karena keduanya berasal dari sumber yang satu dan merupakan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Ayat-ayat qauliyah memberikan isyarat-isyarat kepada para ulama dan ilmuwan untuk melakukan kajian dan penelitian terhadap fenomena alam, hasilnya merupakan bukti kebenaran ayat-ayat qauliyah itu. Sebagai contoh, al-Qur’an mengatakan bahwa kita mengira bahwa bumi ini diam padahal ia bergerak seperti halnya awan. Penelitian ilmiah membuktikan bahwa bumi bergerak demikian.

Dalam sebuah riwayat Rasulullah saw. mengatakan.: “Apabila ada lalat hidup di air minum, hendaklah tenggelamkan sekalian.” Penelitian ilmiah membuktikan bahwa salah satu sayap lalat membawa microba dan sayap lain membawa anti microba yang hanya akan efektif kalau mendapatkan tekanan dengan ukuran tertentu yaitu dengan menenggelamkannya. Sinergi yang baik antara kedua ilmu itu akan memberikan kemaslahatan yang besar bagi kehidupan umat manusia.

Wahyu datang dari Allah Yang Maha Mengetahui meka seharusnya berlapang dada untuk menjadikan wahyu sebagai pedoman hidup sebab kebenarannya adalah kebenaran yang mutlak. Akan tetapi, ilham [penemuan-penemual ilmiah yang dilakukan manusia] tidak dapat dijadikan sebagai pedoman hidup karena kebenarannya tidak mutlak. Kebenaran ilham merupakan kebenaran eksperimental yang kadang terbukti sesuai dengan wahyu namun terkadang terbukti sebaliknya. Penemuan ilmiah yang satu terbantah oleh eksperimen yang dilakukan oleh ilmuwan yang lain, bahkan tidak jarang terjadi bahwa penemuan seorang ilmuwan kemudian termentahkan oleh penemuannya sendiri di waktu yang lain.

Kebenaran sains dan kemajuan teknologi dapat digunakan untuk sarana kehidupan, dalam rangka melaksanakan tugas memakmurkan bumi. Namun harus tetap memperhatikan batas-batas syar’i yang terdapat dalam ayat-ayat qauliyah. Penggunaan sains dan teknologi yang tidak mengindahkan batas-batas wahyu seringkali menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem dan keseimbangan alam. Bila ini yang terjadi, tentu bukan kemashlahatan yang akan dinikmati umat manusia. Sebaliknya yang terjadi selalu saja berupa kerusakan, tragedi, petaka, bencana, dan kehancuran. Semua petaka tersebut adalah akibat ulah tangan manusia sendiri ,manusia yang sempurna secara benar Hanya dengan memposisikan secara benar antara AQ sebagai pedoman hidup dan AK sebagai sarana hidup manusia akan mencapai kesempurnaan Saat memanfaatkan karunia Allah di alam semesta ini di samping sesuai dengan ilmu pengetahuan juga dilandasi moral Al-Qur’an Hidup yang penuh berkah hidup yang baik
Di dunia baik dan di akhirat pun baik serta selamat dari siksa api neraka.
Read more ►

Kandungan Kata “Ilah”

0 komentar


Kandungan Kata “Ilah” (مَعْنَى اْلإِلَهِ)

مَعْنَى اْلإِلَهِ

Kata ILAH

• Terdiri atas tiga hurup: alif, laam, dan haa.
• Kalau merujuk ke kamus besar bahasa Arab maka ALIHA itu memiliki beberapa arti.
a. Tenang/tentram (سَكَنَ إِلَيْهِ)
b. Memohon perlindungan (اِسْتَجَارَ بِهِ)
c. Yang dituju karena rindunya (اِشْتَاقَ إِلَيْهِ)
d. Paling dicintai/dirindukan (وُلِعَ بِهِ)
e. Mengabdi (عَبَدَهُ)

A. Tenang/Tentram (سَكَنَ إِلَيْهِ)

• Berarti لاإله إلاالله maknanya “tidak ada yang dapat memberikan ketenangan dan ketentraman kecuali Allah”.
• Seorang Muslim harus yakin bahwa tidak ada yang dapat menenangkan dan menentramkan kecuali menjalin hubungan dengan Allah.
• أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram).
• Ridho dan merasa tenang dengan kehidupan dunia (وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا)

B. Memohon Perlindungan (اِسْتَجَارَ بِهِ)

• Berarti لاإله إلاالله maknanya “tidak ada yang dapat memberikan perlindungan kecuali Allah”.
• Minta perlindungan kepada jin, didapati adalah bencana dan dosa.
• Hadits: meski semua makhluk melindungi seseorang tapi Allah hendak menimpakan bencana, maka akan tertimpa bencana. Begitu pula sebaliknya.

C. Yang Dituju Karena Rindunya (اِشْتَاقَ إِلَيْهِ)

• Berarti لاإله إلاالله maknanya “tidak ada yang dituju karena rindunya kecuali Allah”.
• اللهُ غَايَتُنَا Allah tujuan kami.
• Larilah kamu menuju Allah
a. Kalau lari, tabiatnya muka ke depan dan tidak berpaling ke kiri dan ke kanan
b. Jangan terbuai dengan dunia dan orang lain.
• Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (وَلا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ ).

D. Paling Dicintai/Dirindukan (وُلِعَ بِهِ)

• Berarti لاإله إلاالله maknanya “tidak ada yang dicintai atau dirindukan kecuali Allah”.
• Boleh kita cinta anak, harta, dan yang lainnya, tapi yang paling dcintai haruslah Allah.
• Kecintaan seorang mu’min kepada Allah harus sangat cinta, bukan sama cintanya dengan kepada selainNya.
• Kenapa cintai tertinggi harus kepada Allah?
a. Karena tabiat cinta itu menuntut pengorbanan
b. Menuruti tuntutan anak, istri, dan lainnya tidak boleh bertentangan dengan Allah.

E. Mengabdi (عَبَدَهُ)

• Ini arti ilah yang merangkum semua arti ilah di atas.
• Karena mengabdi berarti:
a. Merasa tenang
b. Minta perlindungan
c. Menuju karena rindunya
d. Mencintai
• Berarti لاإله إلاالله maknanya “tidak ada yang berhak diabdi kecuali Allah”.

Tuntutan Pengabdian
• Pengabdian itu tercapai kalau dilakukan dengan:
a. Sempurna dalam mencintai (كَمَالُ الْمَحَبَّةِ).
b. Merasa asyik bersamanya.
c. Berlama-lama bersamanya.
• Sempurna dalam menghinakan diri (كَمَالُ التَّذَلُّلِ).

Kerendahan yang paling rendah adalah saat sujud.
• Sempurna dalam ketundukan (كَمَالُ الْخُضُوْعِ).
a. Terhadap semua aturan yang telah ditetapkan.
b. Tanpa reserve.
c. Apakah kita ketika beribadah merasa seperti ini?

Ilah itu X
• Dari keterangan arti ilah secara bahasa, maka ilah itu bisa apa saja  ilah itu X.
• X jadi ilah kalau:
a. Diharapkan (اَلْمَرْغُوْبُ) karunia dan pahalanya atas segala jerih payahnya.
b. Ditakuti (اَلْمَرْهُوْبُ) siksanya (intimidasi, teror, ancaman); X biasanya punya fasilitas dunia.
c. Diikuti (اَلْمَتْبُوْعُ) perintah dan larangannya yang bertentangan dengan Allah (42:21  X buat syariat lalu diikuti, X = ilah).
d. Dicintai (اَلْمَحْبُوْبُ) sama atau lebih tinggi dari pada cintanya kepada Allah.
• Kalau sudah demikian maka X jadi yang disembah/diabdi (اَلْمَعْبُوْدُ).

ILAH (Ibnu Taimiyah)

هُوَ الَّذِي يَأْلَهَهُ الْقَلْبُ بِكُلِّ الْحُبِّ وَالتَّعْظِيْمِ وَالتَّجْلِيْلِ وَالتَّكْرِيْمِ وَالرَّجَاءِ وَالخَوْفِ وَنَحْوَ ذَلِكَ
Segala yang digandrungi hati dengan segenap kecintaan, pengagungan, penghormatan, pemuliaan, harap, cemas, dan sederajat dengan itu.

Pengabdian Kepada Allah
• Pengabdian hanyalah kepada Allah saja karena :

Allah Pemilik otoritas
Allah Pemilik ketaatan
Allah Pemilik kedaulatan

Allah Pemilik Otoritas (صَاحِبُ الْوِلاَيَةِ)
• Hak memerintah dan memimpin ada di Tangan Allah, bukan yang lain
• 7:54 أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأمْرُ Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah
• 7:196 إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.
• Kalau ada manusia yang mengaku punya otoritas  merebut hak Allah = syirik

Allah Pemilik Ketaatan (صَاحِبُ الطَّاعَةِ)
• Ketaatan yang utama adalah taat kepada Allah (4:59)
• Ketaatan kepada Rasul karena Rasul tidak pernah ma’siyat kepada Allah, sehingga nilai ketaatannya sama (4:80)
• Ketaatan kepada ulil amri punya syarat, ulil amri itu taat kepada Allah
لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
Tidak ada ketaatan dalam ma’siyat, ketaatan itu hanya pada masalah ma’ruf (Muttafaq alaih)

Allah Pemilik Kedaulatan (صَاحِبُ الْحَاكِمِيَّةِ)
• Kedaulatan ada di tangan Allah (6:57, 12:40,67)
إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ
Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah
• Kedaulatan rakyat bermakna :
a. Bagaimana umat Islam sebagai mayoritas mendapatkan aspirasi-aspirasi yang Islami
b. Memastikan bahwa negara ini adalah negara hukum, sehingga hak-hak terlindungi sesuai tujuan-tujuan syari’at (مَقَاصِدُ الشَّرِيْعَةِ)
اَلْوَلاَءُ وَالْبَرَاءُ Loyalitas dan Pemutusan Hubungan

Akarnya Kokoh (أَصْلُهَا ثَابِتٌ)
• Ini syarat sebuah pohon bisa hidup dengan baik
• Akar adalah tempat menyerap makanan
• Akar juga untuk mengikat pohon dengan tanah sehingga tidak roboh
• Akar yang kokoh mampu menahan angin yang kencang
• Iman yang kuat: akar imannya menghunjam ke dalam hati
kan kokoh dan teguh dalam menghadapi tantangan dan ujian

Cabangnya (Menjulang) Ke Langit (فَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ)
• Karena akarnya kokoh, maka mampu menopang cabang-cabang yang menjulang tinggi ke langit
• Ketinggian atau lebarnya cabang-cabang menunjukkan akarnya juga seperti itu
• Ini adalah pohon yang rindang menyejukkan bagi siapa saja yang bernaung di bawahnya
• Daunnya juga lebat: daun adalah dapurnya pohon
• Iman yang seperti itu menyenangkan siapa saja yang bernaung di bawahnya dan memancarkan sinarnya yang menyejukkan

Kalimat yang Buruk (14:26)
• Selain لاإله إلاالله adalah kalimat yang buruk (كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ )
• Mereka seperti pohon yang buruk (كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ)
• Cirinya tidak perlu banyak, cukup satu saja: akarnya tercerabut dari bumi (اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الأرْضِ)

Tidak akan kokoh (مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ)
Tidak akan menjulang ke langit dahannya
Tidak akan berbuah

• Contoh: tauge

Rincian Kalimat لاإله إلاالله
• Kalimat لاإله إلاالله terdiri atas empat kata
1. لا
2. إله
3. إلا
4. الله
• Masing-masing memiliki fungsi
1. لا fungsinya adalah meniadakan (اَلنَّفْيُ)
• Atau makna yang sejenis: menghancurkan, meruntuhkan, membabat, menghilangkan
2. إله fungsinya sebagai yang ditiadakan (اَلْمَنْفِيُّ)
• Pembahasannya sudah diuraikan di A03 Ma’nal Ilah
3. Keduanya mengandung maksud bahwa kita harus berlepas diri dari semua ilah atau disebut dengan اَلْبَرَاءُ
• Ada empat makna yang dimaksud oleh kata al-bara’
1. Mengingkari atau menolak (اَلْكُفْرُ)
2. Memusuhi (اَلْعَدَاوَةُ)
3. Membenci (اَلْبُغْضُ)
4. Memutuskan atau mengisolir (اَلْمُفَاصَلَةُ)
• Jadi memutuskan hubungan dengan semua ilah disertai pengingkaran, permusuhan dan kebencian
• Putus hubungan tanpa menolak, memusuhi dan membencinya  masih mungkin balik lagi

Syahadatain untuk Perubahan (التَّغْيِيْرُ)
• Syahadatain yang benar mampu merubah seseorang: berubah menjadi pribadi baru
• Berubah dari pribadi biasa menjadi PRIBADI YANG ISLAMI (الشَّخْصِيَّةُ الإِسْلاَمِيَّةُ)
– Pribadi yang diwarnai dengan warna syahadatain
– Pribadi yang punya sikap hidup tauhid
• Perubahan dimulai dari syahadatain, bukan dengan yang lain

Tentara Fikrah dan Akidah
• Imam Syahid Hasan al-Banna mengartikan ikhlas dengan menjadi tentara fikrah dan akidah (جُنْدِي فِكْرَة وَعَقِيْدَة )
• Setiap kata-kata, aktivitas, dan jihadnya, semua harus dimaksudkan semata-mata untuk mencari ridha Allah dan pahala-Nya, tanpa mempertimbangkan aspek kekayaan, penampilan, pangkat, gelar, kemajuan, atau keterbelakangan
• Ada sebanyak 19 ayat yang menyebutkan kata “kalimat” (كَلِمَةُ)
• Arti “kalimat”
• Pernyataan
• Ketetapan
• Konsepsi (Manhaj)

Islam vs Non-Islam
• Islam memiliki ungkapan, pernyataan, ketetapan, dan konsepsi yang berbeda dengan Non-Islam
• Merujuk pada materi “Al-Wala wal-Bara”, maka Islam telah membersihkan dirinya sebersih-bersihnya dari segala kotoran Non-Islam.

Syahadatain vs Ideologi Jahiliyah
• Ungkapan, pernyataan, ketetapan, dan konsepsi Islam yang bersih itu bersumber dari syahadatain
• Sedangkan Non-Islam berasal dari pemikiran-pemikiran atau ideologi jahiliyah
– Ideologi yang tumbuh dari tumpukan dosa-dosa
– Padahal dosa itu menimbulkan bintik hitam (نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ) dalam hati (83:14)
– Apabila tidak dibersihkan dengan taubat, maka akan menutupi hati (2:7)
– Akhirnya dosa itu ditetapkan sebagai hukum

Kalimat Allah vs Kalimat Orang Kafir
• Syahadatain itu adalah Kalimat Allah (9:40), berasal dari Allah SWT
• Sedangkan ideologi jahiliyah bersumber dari ungkapan, pernyataan, ketetapan, dan konsepsi orang-orang kafir (9:40, 74)
– Mereka bagaikan berada di samudra yang dalam, gelap, ombak bergulung-gulung, tidak bisa melihat apapun bahkan dirinya sendiri pun tidak (24:40)

Kalimat Allah itu Tinggi
• Kalimat Allah itulah yang tinggi, mulia (9:40)
– Karena semua kemuliaan memang hanya milik Allah (10:65)
• Sedangkan kalimat orang-orang kafir itu rendah, hina (9:40, 95:5 أَسْفَلَ سَافِلِينَ, 98:6 هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ)

Kalimat Tauhid vs Kalimat Syirik
• Kalimat Allah yang tinggi dan mulia itu adalah kalimat tauhid: لاإله إلا الله
• Sedangkan kalimat orang-orang kafir yang rendah itu adalah kalimat syirik
– Kemusyrikan bagaikan jatuh dari langit lalu dicerai-beraikan oleh burung akhirnya jatuh di tempat yang jauh (22:31)
– Kemusyrikan menyebabkan terpecahnya kepribadian, karena tidak fokus dalam pengabdian (39:29)

Kalimat Taqwa vs Kesombongan Jahiliyah
• Kalimat tauhid itu adalah kalimat taqwa, yang menghantarkan seseorang kepada ketaqwaan (48:26)
• Sedangkan kalimat syirik menghantarkan seseorang kepada kesombongan jahiliyah (48:26)
– Suhail bin Amru ketika masih kafir dalam Perjanjian Hudhaibiyah menolak kalimat basmalah dan rasulullah (setelah Islam ia sahabat yang gigih membela Islam terutama saat menghadapi orang-orang murtad)
– Sombong itu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain (الكِبْرُ بَطْرُ الحَقِّ وَ غَمْطُ النَّاسِ)

Kalimat Baik vs Kalimat Buruk
• Kalimat taqwa adalah kalimat yang baik (14:24)
• Sedangkan kesombongan jahiliyah adalah kalimat yang buruk (14:26)
– Tidak memberikan manfaat bagi manusia
– Didengar pun tidak enak

Kuat vs Lemah
• Jadi syahadatain itu kuat
– Pasti menang (58:21)
كَتَبَ اللَّهُ لأغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ
• Sedangkan ideologi jahiliyah itu lemah
– Pasti kalah dan hancur (17:81 زَهُوقًا)
مَرَاحِلُ التَّفَاعُلِ بِالشَّهَادَتَيْنِTahapan Berinteraksi Dengan Syahadatain

Syahadatain Menghasilkan Cinta
• Syahadatain yang diucapkan harus menghasilkan cinta. Kenapa?
• Karena “ilah” itu artinya yang dianut (panutan)
• Orang tidak akan manut/taat kalau tidak setia (loyal)
• Tidak akan setia kalau tidak cinta
• Jadi tuntutan syahadatain: adanya cinta
• Cinta seperti apa?

Mencintai Apa yang Dicintai Allah dan Rasulnya (مَحَبَّةُ مَا أَحَبَّهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ)
• Adanya penyesuaian dalam kecintaan
• Karena belum tentu yang kita cintai, pun dicintai Allah dan RasulNya, seperti perang (2:216)
• Ulama berkata:
• مَحَبَّةُ مَحْبُوْبِ الْمَحْبُوْبِ مِنْ تَمَامِ مَحَبَّةِ الْمَحْبُوْبِ
• “Mencintai yang dicintai kekasih adalah tanda kesempurnaan cintainya kepada kekasih”

Membenci Apa Yang Dibenci Allah dan Rasulnya (بُغْضُ مَا أَبْغَضُهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ)
• Allah dan RasulNya membenci perbuatan (الْفَحْشَاءِ), kemungkaran (الْمُنْكَرِ) dan permusuhan (الْبَغْيِ) 16:90 kita pun membencinya
• Sungguh akan membuatnya tersinggung apabila kekasih membenci sesuatu tapi kita malah menyukainya

Tanda-tanda Cinta (آيَاتُ المَحَبَّةِ)
• Mengikuti Rasul SAW (إِتِّبَاعُ الرَّسُوْلِ)
– 3:31 قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي
• Berjihad di jalan Allah (الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ)
– 49:15 bukti iman yang kokoh adalah jihad di jalan Allah
– Berani menanggung resiko
– Kata Ulama:
– مَحَبَّةُ الْمَحْبُوْبِ لاَ تُنَالُ إِلا بِاحْتَمَالِ الْمَكْرُوْهَةِ
– “Mencintai kekasih tidak akan tercapai kecauli dengan menanggung segala resiko”
Ridho (اَلرِّضَى)
• Kalau cintanya sangat tinggi, tentu dia akan RIDHO
• Apapun yang dikehendaki oleh yang dicintai tentu ia ridho menerimanya
• Siapa yang harus kita ridhoi?
– Allah sebagai Robb kita
– Islam sebagai agama kita
– Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul kita

Pendalaman dan Perluasan Materi
• Masalah ridho akan diperdalam pada materi khusus tentang ridho (A08)
• Masalah ridho juga akan diperluas di materi
– Ma’rifatullah : ridho kepada Allah
– Ma’rifatul Islam : ridho kepada Islam
– Ma’rifaturrasul : ridho kepada Rasul SAW
• Sedangkan tentang manusia akan diperluas di materi ma’rifatul-insan
Read more ►
 

Copyright © Hendri Pratama Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger